This life is sweet as chocolate martabak

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/0db/81045557/files/2014/12/img_8741.jpg
Martabak coklat keju jagung buat si Abang 🙂

Apa saja yang didepan mata tidak selamanya baik dan tidak selamanya buruk. Saya teringat nasehat Ibu, “Tidak ada kebahagiaan orang tua melainkan melihat anak- anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik dan menggapai cita- citanya.” Mungkin itu juga yang kelak dirasakan seorang Ibu seperti saya. Melihat serta membimbing perkembangan dan pertumbuhan anak sebagian besar menjadi tolak ukur keberhasilan anak tersebut di masa depan, selain pendidikan lingkungan yang mungkin berefek jelas terhadap perkembangan psikologis anak, keberadaan orang tua dan kelengkapan orang tua memiliki peranan yang cukup penting.

Si abang, baru sekolah PAUD, jelas adalah masa- masa bahagia seorang anak untuk mengenal lingkungannya di usia pra sekolah. Hanya saja, kenyataan pengenalan kebahagiaan tersebut kadang menjadi sebuah kontradiksi belakangan ini di dunia anak. Saya harus menerima kenyataan si abang mendapatkan perlakuan tidak baik dari teman- temannya di sekolah. Mungkin kita kenal dengan istilah bullying. Saya tidak pernah menyangka harus anak saya yang mengalami hal tersebut setelah begitu maraknya pemberitahuan tentang bullying dikalangan anak kecil sampai dengan remaja. Sifat si Abang yang mudah memaafkan dan melupakan kesalahan orang membuat dia dapat menceritakan dengan jelas perlakuan teman- temannya terhadap dia sambil tertawa- tawa walau teman- temannya kerap melakukan hal yang tidak menyenangkan terhadapnya. Sedih mendengarnya, kepolosan seorang anak kecil menjadi pertaruhan di babak baru kehidupan. Harusnya mendapatkan masa- masa paling indah dalam hidup, dia malah mendapatkan kepahitan di awal proses pengenalannya terhadap dunia luar.

Abang dipukulin si A, B, C, D, sakit badan Abang.

Waktu saya tanya, “Abang sudah berapa kali dipukulin?” Dia terdiam sambil menghitung, lalu menjawab dengan senyum lebarnya, “Udah lima kali..” Dan kembali Saya bertanya, “Abang cuma dipukul pake tangan aja?” Dan dia menjawab dengan cepat, “Iya, tapi waktu itu si A udah pegang besi sepanjang ini (sambil peragain pakai tangannya seberapa panjang besi yang dimaksud) tapi kan mami jemput tuh, trus si A bilang, yaah udah dijemput, gak jadi deh gebukinnya, gitu katanya..” lagi- lagi itu diucapkan dengan nada tanpa sedih sedikitpun. Dan semakin miris pun hati saya mendengarnya.
Satu hari sebelum hari pengambilan raport semesteran, si Abang sedang menangis ketika dijemput sepulang sekolah, sontak muka panas dan emosi memuncak melihat anak tercinta kuyu dan lemas serta bercucuran air mata. “Abang kenapa, nak?” Dengan berusaha tetap tenang bertanya sama si Abang, dijawabnya dengan sesengukan, “Abang dipukulin si A, B, C, D, sakit badan abang, sakit miii..sakiiiittt…” Rengek dan cucuran air matanya membuat emosi semakin memuncak. Saat itu juga berusaha mengkonfirmasi guru yang bertanggung jawab, namun Ibu guru tidak menyaksikan apa yang dilakukan teman- teman si Abang kepada si Abang. Saat itu rasanya ini bukan PAUD, melainkan pasar dengan segerombolan preman- preman kecil yang merasa berkuasa melebihi orang dewasa.

Suatu saat nanti mereka akan dewasa. Si Abang, dan teman- temannya pasti punya kenangan masa kecil yang menurut mereka sepele, padahal itu menentukan mereka di masa depan. Harusnya permainan anak- anak yang konvensional menjadi concern mereka, namun tidak begitu kenyataannya. Hidup yang seharusnya manis buat mereka di usia segitu, menjadi hidup yang paling mereka sesali dan membuat trauma jangka panjang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s